CATATAN DARI PENULIS

Blog ini berisi tentang kumpulan puisi yang ditulis dan dibuat langsung oleh smile.

smile menyukai puisi, dan hanya bisa mengekspresikan diri melalui untaian kata dalam kalimat puisi.

Puisi yang bercerita tentang CINTA, KEBENCIAN,EMOSI,RENUNGAN,KESEDIHAN,HARAPAN, ANGAN DAN CITA CITA, PUJIAN ,DAN SEMUA ASPEK YANG TERJADI DALAM KEHIDUPAN.

Walau smile bukanlah siapa siapa dan bukanlah penyair kenamaan, tapi smile akan tetap dan terus berpuisi, dan bagi yang ingin mengunggah atau mengkopinya silahkan, asal meninggalkan pesan di kotak pesan atau mengirim email ke :
mr_smile333@yahoo.com
, dan semoga semua puisi yang telah ada dan akan terus ada, bisa menjadi inspirasi buat semua pengunjung setia blog smile " KUMPULAN PUISI-smile"

MengCopas tanpa ijin adalah suatu perbuatan memalukan yang menodai laskar pelangi anak bangsa.....


Terimakasih,
Salam Hangat



WORD of SMILE

Start every day with a smile and get it over with. ~W.C. Fields

A smile is an inexpensive way to change your looks. ~Charles Gordy

The robbed that smiles, steals something from the thief. ~William Shakespeare, Othello

Beauty is power; a smile is its sword. ~Charles Reade

A smile is the universal welcome. ~Max Eastman

You're never fully dressed without a smile. ~Martin Charnin

It takes seventeen muscles to smile and forty-three to frown. ~Author Unknown

All the statistics in the world can't measure the warmth of a smile. ~Chris Hart

Peace begins with a smile. ~Mother Teresa

peace,
smile

KUMPULAN PUISI BUATAN ASLI LASKAR PELANGI ANAK BANGSA

.

Kamis, 13 Oktober 2011

AKU HANYA GEMBEL

Aku bukan pujangga,
Yang punya seribu kata indah penuh makna

Aku bukan profesor,
Yang punya pemikiran penuh terobosan akan masa depan

Aku bukan Superstar,
Yang punya ketenaran dalam gegap gempita dunia

Aku bukan Rohaniwan
Yang berteriak terak lantang tentang (T)uhan

Aku bukan Orang pandai
Yang punya banyak rumus untuk dipecahkan

Aku bukan panutan,
Yang tak punya banyak kekaguman

Aku hanya gembel,
Yang hidup dalam negeri tak beratap
Yang bernafas dalam udara berbau busuk
Yang tinggal dalam kerumunan berbau amis

Aku hanya gembel,
Yang tak punya sesuatupun untuk dibanggakan
Yang tak punya secuilpun cerita indah untuk dikisahkan

Aku hanya gembel,
Yang hanya bisa melihat tak bisa berkata
Yang hanya bisa menahan tanpa pernah bisa melepaskan

Aku hanya gembel, dimata semua orang yang memandangku

………………


Dari sudut berlian dan permata,
Aku bagai batu koral hitam, kelam

Dari sudut keindahan kota,
Aku bagai sebuah rumah kardus di sudut terpencil

Dari sudut kain - kain beraneka warna penuh warni,
Aku hanya kain usang yang kumal

Tapi bagi sudut lain dunia
Aku adalah intan bercahaya
Yang putih sebersih susu
Yang bersinar secerah pelangi cinta
Yang tak dipandang hina dina
Yang tak dipandang sebelah mata
Karena bagiNya,
Aku berharga
Dan tak ternilai harganya
Unik, dan sempurna


Jika saja mereka mengerti
Kalau keindahan dunia hanya sementara
Atau kehormatan dunia hanya tipu daya
Atau surga dunia hanya kemunafikan semu
Mungkin,………….

Mereka akan menjadi seperti aku,
Gembel namun bukan pengemis
Kotor, tapi bukan pengeruh
Terabaikan, namun tak ditinggalkan

Aku hidup, seperti DIA hendaki demikian
Aku ada, sperti DIA hendaki aku tetap bernafas

Ini hanya sebuah awal menuju awal yang baru
Bukan seperti mereka yang berawal untuk menuju akhir

Bijaklah menyikapi
Sakit, bukan berarti harus mati
Tapi nikmat, pasti berujung mati









13 Oktober 2011

Jumat, 29 Juli 2011

SERIGALA BERPARAS SERIGALA

Dia mengatakan :
Banyak ‘serigala buas yang memperhatikan’
Dengan mata merahnya yang mengawasi
Juga tetesan liurnya menghasrati
Juga taringnya siap mengoyak tubuh ini
Tapi abadi, tak kan bisa :
“Menghancurkan – Melumatkan - Meluluhlantakan”
ruh insani

Mungkin harus kutambah
Dengan untaian kata:
Tulus seperti merpati

Karenanya,ular beludak enggan lagi gentar
Untuk mematuk
Karena bisa tak lagi punya arti
Hanya saja besarkah iman itu?
Dan yakinkah hati ini?

Jika serigala buas mengawasi
Tak akan mereka bergerak sendiri
Karena barisan berderap
Dalam intaian merajuk hari
Oh…..Kelam memang

Seolah tak mengerti
Kalau ada hanya untuk sebuah kekisruhan
Ikut siapa? dia, atau dia?
Atau dia yang sudah ada dan telah lama ada
Sebelum kamu, juga aku

Ketika berselimut kain
Dan tubuh berbalut rapat dalam kedap
Intaian tak menyirna
Bahkan lebih lagi tajam mengawasi
Dengan mata merah dan hasrat liur menetes

Serigala berbulu domba
Tak lagi…………….
Serigala berparas serigala, bukan domba
Tak sembunyi dalam baju
Lantang berikrar
Aku!!! Bukan dia, dia, atau dia

Masa abadi
Satu dalam keindahan syurga
Ribuan dalam tangisan pilu
Pintu besar berjalan lapang
Atau gerbang sempit terbentang keabadian

Nama?
Tak punya arti!!!
Kumpulan dari serakan tak memberi kepastian
Mungkin hanya janji
Dalam tutur kata ucapan serapah
Vertikal tanpa horisontal
Atau kata bijak tanpa perbuatan?

Percuma, sungguh ironi
Kalau jatuhnya pada kertakan gigi
Hati - hati katanya lagi.
Ajal tak kenal waktu, juga lelaku
Hati - hati, serunya lagi
Rapatkan celah dengan satu yang satu
Siapkan jiwa dalam balutan raga
Karena sekali lagi,
Datangnya seperti pencuri
Tanpa permisi,
Hati - hati, katanya lagi
Terhadap serigala buas bermata merah yang mengawasi
Dalam lolongan panjang tiada henti


by






29 Juli 2011
Sebuah puisi untuk Avianti Armand

Kamis, 07 Juli 2011

SEBUAH REPLAY TUK LUHUNG MARDI

Sebuah reply tuk Luhung Mardi

Menulang emas di timbunan pasir
Jauh tertanam di dalam tanah
Seperti mengharap mentari terbit di barat
Atau Air samudera raya ada di cakrawala

Sekandung badan seragam darah
Satu berhunus pedang
Yang lain berpegang tameng putih menyala
Kalau dia bilang pentung,
Berarti satu yang lain akan bersumber pada trikasta

Jika katanya, Dia, Dia, Dia, dan Dia
Lalu siapa si manunggal  : ternyata?
Dalam balutan satu warna saja berdarah,
Apalagi pelangi dalam untaian warna

Jika si pemanggil manunggal berlantang
Akan ujung dan akhir
Lalu siapa gerangan terkumandang
Dua dalam satu kumpulan pinang di belah dua

Tak ada paksa dalam tentuan titik
Apalagi jika sehelai rambut di belah tujuh
Biarkan senyawa menoreh tinta
Dalam setiap bejana hayat manusia
Karena pada akhirnya
Semua tak tahu,
Juga,……tak pernah bersuanya : aku – kamu
Dengan Dia, Dia, Dia, Dia, dan Dia itu

Jika ucap-nya, bermula dari kata,
Itu benar , karena ada pada mulanya
“Ada sebelum Ada” dan diam - ketika gelap tercipta

Sungguh ironi,
Bak kapal terombang - ambing di laut lepas
Tak ada labuh – Tak ada suar
Tak ada akhir, apalagi titik

Hai - seruanku pada mereka dalam hingar
Hai – seruanku diantara desingan dan dentuman
Diantara sayatan dan keamisan
Aku menari atau menyanyi
Aku menangis atau terbahak dalam sedakan

Ketika dia bilang bersalah, lalu siapa yang benar
Ketika dia bilang kotor, lalu siapa yang bersih
Ketika dia bilang nomor satu………
Lalu siapa yang mau jadi nomor dua?
Bahkan nomor tiga, empat, lima?

Biarkan satu dengan satu
Dua dengan dua, yang merasa satu
Karena manunggal sudah tentu
Untuk berkata : “Iya…aku, bukan kamu…”
Mustahil saja semua itu

Bisakah menghukum sang penghukum
Menolak jika itu bukan landas, tapi pijakan kaki

Bisakah berlantang sekali lagi :
“Ini aku, dan bukan kamu, kamu, kamu atau kamu”

Ke surga atau ke neraka, dia berkata
Atau hanya antaranya……….

Siapa tahu dan siapa mau?
Ke kiri jika berharap ke kanan
Ke atas jika berharap ke bawah
Ke depan jika berharap ke belakang?

Insan hanya hembusan nafas
Dari buliran debu tak kasat mata,
Hilang tak berbekas dalam tiupan
Tapi sempurna dalam Mahakarya

Disamakan......
Diratakan……..
Disatukan.....
Dari serakan

Tak bisa dengan mudah dalam ikatan
Pelik dan sungguh rumit
Sulit dan amat sukar
Jika sudah tujuh – delapan -  atau sembilan
Biarkan terurai dalam serakan
Satu lemah seribu gagah

Biarkan dia dengan Dia , Dia, Dia, atau Dia nya
Tak ada yang sanggup melompat seperti katak,
Jika dia babon…….
Tak ada yang dapat seperti babon, jika dia katak

Biarkan lembu tetap meladang
Dan domba tetap merumput
Karena mentari terbenam di barat
Dan air tetap di laut

Pada akhirnya aku tak tahu
Kamu – juga dia, tak tahu
Hanya Dia yang tertinggal dalam akhir
Yang tahu,
Yang tahu,
Yang tahu, dan sungguh,
Kuberitahu, Dia itu tahu.

Yang terakhir, untuk kamu,
Kamu, kamu, dan kamu
Sedalam apa aku mencari
Setinggi apa aku menengadah
Sehikmat apa aku berlaku
Biarkan,sama seperti kamu,
Kamu, kamu, dan kamu

Keterkekanganku, dan keterkekanganmu
Seciut apapun jalan berliku,
Atau seberingas apa walau dalam tawanan
Aku, tetap melaju,
Sama seperti kamu, kamu, kamu dan kamu

Apalagi yang kita mau?
Atau yang kamu, kamu kamu, dan kamu mau?








07 Juli 2011
Dari 4 penjuru mata angin
Dari dua sisi gelap dan terang
Dari timur dsampai kebarat
Sebuah puisi dari hati


Senin, 27 Juni 2011

MEREKA BUKAN PENGEMIS

Mereka bukan pengemis

Hidup dalam kegelapan
Dikala mentari bersinar terang
Hidup dalam kepekatan
Dikala rembulan tersenyum riang
Hidup dalam kekurangan
Jua dalam  ketidaksempurnaan
Sedih, lalu mati,
Atau bertahan dalam dunia fatamorgana

Mengukir prasasti
Atau
Mengekang semua hasrat,
Dalam teriakan meronta geram


Tidak…..
Tak kuhirau derpaan ombak terjal
Atau sambaran api melahap jiwa

Aku berdiri tegar,
Bukan untuk merintih dalam raungan tangis
Atau mengiba dalam belas kasihan
Tapi menyongsong hari penuh harapan
Sekali berarti, atau mati

Keindahan mereka katakan neraka jahanam
Surga dunia mereka rasakan seperti lembah nestapa
Bagi dia, yang tak berada disini
Bagi mereka yang menganggap semua tak pernah pasti

Ketika kulihat setitik cahya
Laksana kupandang semendung awan bergumpal
Ketika getar, aku berdiri dalam diam
Berguruh lantang aku terbahak

Aku diam tak beriak
Mereka pilu  dan sungguh mengharu
Aku tegar tak bergeming,
Mereka goyah dan berempati hati.

Sungguh,ku bangga dengan gelap itu
Sungguh ku bahagia dengan kehinaan itu
Karena aku berharga dalam dekapanMu
Dan aku bernilai bak permata safir berkilauan
Walau hidupku bukan hidupmu,
Walau rasa ku bukan asamu


Life for nothing, die for something
Life for something, die for blessing

Untukmu
“pahlawan dunia baru”
Generasi penerus bangsa yang tegar
Yang bangga menjadi manusia
Walau tidak sempurna, dan hidup hanya sebagai orang terbuang
Untukmu, saudara saudaraku
Yang hidup dalam kegetiran dunia,
Tapi perkasa dan tak kenal lelah
Selalutersenyum walau dunia membuat tangisan pilu
Semoga Tuhan besertamu, saudara saudara terkasih


 by smile
27 Juni 2011

AKU MULAI HARI INI

Aku Mulai Hari ini

Hidup itu tak bisa sendiri
Tentu butuh teman dan kadang disusupi lawan
Hidup itu tak bisa nyaman, kalau tak punya teman, tapi punya lawan

Maunya hidup damai,
Tapi susah cari ketenangan
Banyak sisi negatif yang menawarkan
Banyak sisi kelam yang menghitamkan
Kalau dimengerti, kadang tak mengerti
Kalau dipungkiri, kadang tak bisa dihindari

Ibarat bayangan dan cermin diri
Tak diharapkan tapi selalu menemani
Berbuat baik susah karena banyak yang tak baik
Berbuat sabar susah karena banyak yang mencobai kesabaran

Mementahkan pengharapan
Dan memuntahkan caci maki
Memporakporandakan keteguhan
Membakar emosi

Dan akhirnya meledakkan sejuta kejahatan
Dalam selimut kemunafikan
Dan berlapis kenistaan

Hidup benar diantara yang tak benar
Hidup baik diantara yang tak baik
Hidup damai diantara hingar bingar kekisruhan

Kemana harus kubawa semua keadaan
Kalau hati galau
Jiwa resah
Dan pengharapan putus bagaikan layang layang

Aku mencari jarum ditumpukan jerami
Aku mencari kebenaran diantara keburukan
Aku mencari ketulusan diantara kepalsuan dan kelicikan
Aku mencari kebaikan diantara semua dosa dan kedurjanaan

Aku mencari yang tak pernah kutemui
Karena satu datang dan seribu pergi
Yang satu bertobat dan yang seribu kumat

Bisakah menjadi domba diantara kerumunan serigala buas
Bisakah menjadi tulus seperti merpati diantara lilitan ular beludak

Aku sangsi
Dan aku merasa tak pasti

Jalan dalam likuan setapak semak berduri
Berlari dalam ribuan bara yang menghanguskan kaki
Meratap dalam kertakan siksa langlangbuana

Bayangkan
Jika polisi sudah berkorupsi
Jika hakim sudah manipulasi
Jika jaksa sudah tawar menawar harga pasti
Jika wakil rakyat sudah terbuai dalam singgasana resmi
Tanpa perbuatan hanya teori
Jika membunuh tak lagi ngeri
Jika mencuri tak lagi sembunyi

Lebih baik hidup sendiri
Dalam dunia tak berpenghuni
Apa daya, semua tak akan terjadi
Karena hidup kita bukan sendiri
Tak bisa berlari
Dari lingkaran setan duniawi
Yang bukan lagi menyesatkan hati
Menyunat harga diri
Dan memaklumkan dosa sebagai sebuah senjata sakti

Kembali aku berpikir dalam lekung merenda hari
Jika baik, bukankah karena dulu jahat
Jika benar, bukankah karena dulu salah
Jika berani, bukankah karena dulu takut
Jika tak tau malu, bukankah karena dulu malu malu
Jika terkenal bukankah dulu hanya orang yang tak terpandang
Dan mungkin nyaris tak terlihat
Jika tobat bukankah dulu kala selalu kumat

Kalau tak sekarang, kapan lagi?
Menunggu ajal menjemput, apakah berarti?
Semua tentu sudah tak ada makna,
Karena yang terbuka itu akan tertutup
Dan yang membara itu seketika akan padam

Aku, mau memulai
Walau tanpa kawan, banyak lawan
Tapi aku merasa pasti
Untuk menjadi sebuah sejarah penuh arti
Ketika hayat ini masih dikandung badan

Aku, akan mulai saat ini.
Sampai tanda titik dari tulisan ini.


By smile





Sabtu, 02 April 2011

AkU MALU

Suaramu merdu
Tawamu lucu
Perkataanmu penuh arti buatku

Suaramu begitu ,memporak poranda hatku
Juga begitu membuat penasaran aku

Ternyata semua hanya palsu
Wajahmu menipuku
Perangaimu membodohiku
Sifatmu membelengguku
Ternyata kamu hanya penipu
Yang menyiksa hidupku

Untung aku berlari tanpa pernah menoleh
Dan bergegas menghilang tanpa ragu dalam selimut kalbu
Berserakan sudah pasir di sehamparan dermaga labuan
Hilang bagai asap ditelan angin

Itulah pengalaman tak terbayar
Dari kehidupan yang tak terprogram
Datang dan langsung digapai
Tanpa pernah melihat pelangi itu tak lagi berwarna

Aku,
Dalam tertawa malu
Dalam kesendirian yang memerdekakanku
Bahagia laksana tawa bahana semesta bumi

Aku,
Malu
KepadaMu...
Ya (T)uhanku...

BY

Rabu, 02 Februari 2011

AKU TIDAK TAHU

Aku mau berenang,tapi aku takut air
Aku mau pandai, tapi aku malas untuk belajar
Aku mau menyumbang, tapi aku tak punya uang
Aku mau membantu, tapi hanya niat tanpa prilaku

Aku tahu, apa itu malu
Tapi aku suka tak tahu malu

Tapi dibalik semua itu :
Aku mau kamu tahu,
Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang aku,
Dan aku mau kamu tidak tahu,
Tentang apa yang tidak perlu kamu tahu,
Karena apapun yang kamu tahu tentang aku,
Tak akan bisa melebihi dari pengetahuanku tentang diriku sendiri
Aku punya banyak hal yang tak kamu tahu,
Bahkan...

Aku sendiripun tak mengetahuinya
Karena begitu banyak yang ku punya dalam hidupku,
Yang tak bisa terungkap semuanya

Aku bukan objek yang bisa kamu jadikan sumber inspirasimu
Aku bukan objek yang kamu bisa perlakukan semaumu

Ketika kamu berpikir kamu sudah mengetahuinya,
Kamu menjadi tidak tahu dengan apa yang kamu tahu

Ketika kamu merasa kamu sudah menjadi Maha Tahu
Maka kamu sama sekali tidak tahu apa-apa dengan pengetahuanmu itu

Ketika kamu sudah merasa berada dalam situasi maha tahu
Kamu tak lagi berpikir untuk mencari pengetahuan yang lain

Kamu terlena dalam pengetahuanmu
Walau sebenarnya kamu itu menjadi tidak tahu apa apa.

Apa yang harusnya kamu lakukan dengan segala pengetahuanmu itu?
Baik untuk mengetahui akan orang lain, maupun akan dirimu sendiri?
Cukup dengan menjadi orang yang tak merasa serba tahu
Maka kamu akan terus lapar mencari hal lain yang belum kamu ketahui

Kamu tahu, namun kamu tidak tahu
Kamu tahu, namun kamu benar benar tidak tahu kalau kamu tahu
Kamu tahu, namun kamu tidak benar benar ingin tahu hal lain
Yang belum kamu tahu
Kamu hanya tahu, kalau kamu telah mengetahui,
Walau lagi lagi dalam kenyataannya kamu masih tidak tahu, apalagi
Serba tahu.

Pikirkanlah semuanya itu
Menjadi serba tahu dalam ketidaktahuan
Atau menjadi serba tidak tahu dalam pengetahuan


Aku, tidak tahu.







ENGKAU TETAP INDONESIA KU

HANYA UNTUK ORANG INDONESIA
YANG BUKAN WNI DILARANG BACA
INI BUKAN PUISI
JUGA BUKAN PROSA
INI CUMA SEBUAH TULISAN TANPA BENTUK



Mau baik susah.
Mau tulus, diprasangka
Seperti buah simalakama
Pandangan melahirkan asa
Asa membawa cinta
Lalu terlahir jadi perbuatan nyata

Namun sekali lagi sungguh sulit
Baik saja salah, apa lagi salah.
Benar saja tidak benar, apalagi tidak benar.

Menyalurkan kasih divonis menyebarkan firman
Meniupkan keadilan malah jadi bulan bulanan.

Yang hebat sudah tiada, harusnya jadi bapa bangsa
Yang ada hanya tebar pesona dan berjanji dusta

Lembaga bukan lagi lembaga
Semua ada kepentingan dan juga keserakahan

Yang katanya menentukan tentang keadilan
Malah jauh dari keadilan

Yang katanya berprinsip pelayanan
Malah menjadi pemerasan

Setali tiga uang, bak pinang dibelah dua
Kalo penyanyi bilang mau dibawa kemana?
Mungkin tepatnya dibawa ke lembah ratapan

Kalau mereka bilang itu ada didadaku,
Cuma simbol saja tanpa perilaku
Yang ada juga hanya hal semu, dan kaku
Tak bisa menyatu.

Sebelah utara meniup
Sebelah selatan menghisap
Sebelah barat menggali
Sebalah timur menimbun

Tiap hari mendengar
Tiap hari melihat

Semua bangga dengan seragamnya
Tapi tak pantas dengan kelakuannya

Semua bangga dengan korpsnya
Tapi tak sesuai dengan semboyannya

Mungkin hanya bencana yang bisa menyatukan semuanya
Dan malapetaka yang bisa menghentikan semua.
Tapi apa perlu azab itu turun ke atasnya
Atau memporakporandakan ibu pertiwi tercinta?

Laut itu asin rasa airnya.
Bagaimana itu mau ditawarkan?
Sia sia.

Matahari itu terbit dai ufuk timur.
Bagaimana berharap akan terbit dari ufuk barat?
Lagi lagi sia sia.

Apa yang harus dirubah?
Atau siapa yang harus merubah?
Kantongku penuh, buat apa kuurusi kantongmu?
Airku banyak, buat apa kupikirkan kemaraumu?

Tak pernah tenang barang sekejap.
Hari raya hanya dijadikan cara tiarap sementara

Setelahnya,
Rambut yang hitam bukan makin hitam, tapi makin beruban
Tawa hanya ada diujung bibir, bukan dari hati.
Menangis hanya bermodalkan obat tetes saja, bukan karena iba
Atau pun karena haru.

Sinetron bukan saja di televisi
Tapi dalam kehidupan sehari hari

Petani jadi pejabat,
Pelawak jadi pengusaha,
Serdadu jadi pemuka,
Preman jadi guru,
Selebritis jadi pejabat
Pejabat jadi selebritis

Orang kaya jadi orang miskin
Dan jadi orang hina, katanya cintami atmanegara,
Bayar pajak aja susah.

Orang miskin jadi orang kaya,
Tidurnya nyenyak, makan nikmat,
Walau hanya dikolong jembatan,
Atau makanan dari warteg tetangga.

Kalo bukan dari sekarang, kapan lagi.
Apa seharusnya Yang Kuasa ciptakan manusia,
Tanpa kemaluan?

Apa seharusnya yang kuasa ciptakan manusia dengan banyak kemaluan?
Karena mereka tidak tahu malu.

Atau kurang mengerti apa itu malu dan memalukan
Apa itu kemaluan dan malu maluin
Dan mana yang bikin malu dan mana yang tidak

Yang bener jadi keblinger
Yang salah jadi makin ngelantur


Memvonis bersalah diperiksa
Memvonis bebas lebih diperiksa

Katanya miskin, kok punya banyak tanah?
Katanya dagangan sepi,kok tokonya makin banyak?
Katanya gaji kecil, lalu boleh korupsi?
Katanya birokrasi bikin pusing, lalu boleh suap menyuap?
Katanya biasa lama, kaget kalo sebentar?
Katanya buat apa dipersulit,kalo bisa dibikin mudah?
Ah, itu hanya slogan semata
Sidak sementara, lalu tiarap
.................
lagi lagi hanya sementara.
Sesudahnya kembali seperti semula
Nikmat, katanya


Ada ada saja
Penyelesai masalah gudangnya masalah
Pengayom kesehatan malah sarang penyakit
Penegak keadilan malah tidak adil
Pelayan masyarakat malah dilayani masyarakat

Mau jadi pahlawan?
Dikeroyok rame rame
Bila perlu diancam rame rame
Ngakunya dari den den
Yang satu ngaku dari sus sus

Tugasnya:
Mengintimidasi
Menghilangkan nyawa orang
Sekarang jaman Markus, padahal lebih kejam dari Petrus


Warna saja jadi kebanggaan. Buat apa?
Sok idealis, sok nasionalis.
Bayar pajak tak mau
Bayar pajak selalu menghindar
Ada saja 1001 alasan
Katanya garuda di dadaku
Sukanya ribut melulu, ribut bukan melawan musuh
Hanya berani melawan saudara sendiri.

Mereka yang nonton, hanya ketawa
Jadi tontonan kok bangga.

Biar eksis?
kelaut aja.....
tau ga arti garuda didadaku?
tau ga arti merah putih adalah kebanggaanku
tau ga arti Indonesia tumpah darahku?
Berantas tikus tikus got!
Perampas beras rakyat
Berantas kejahatan kerah putih!
Perampas kekayaan negara
Perampas hak azasi rakyat jelata
Berantas anarki berkedok agama
Jangan nodai kesucian
Jangan nodai akhlak kemanusiaan

Agama?
Mana ada agama keras
Yang ada juga garis keras

Mana ada agama jahat?
Yang jahat juga manusia nya

Mana ada agama salah?
Yang salah selalu penganutnya

Kapan Indonesia maju?
Sekaranglah saatnya
Kapan Indonesia jaya
Sekaranglah mulainya

Bukan hanya sebuah legenda
Tapi ini saatnya...
Karena Bagaimanapun,
Engkau tetap Merah Darahku
Engkau tetap Suci negaraku
Engkau tetap INDONESIA ku.

By smile

Sabtu, 01 Januari 2011

SELAMAT TAHUN BARU INDONESIA

Ini awal tahun baru,

Adimuka tetaplah sama,
Dan Adyaksa tutup mata
Serta junjungan neraca bertepuk dada
Ber-raport merah,tetap nyantai, dan tertawa,
Itu sudah biasa, katanya.
Walau satu masuk dan sepuluh lepas,
Tetap akan diam seribu bahasa
Dan akhirnya menghilang, dalam bias waktu
Tanpa berita, juga makna


Ini awal tahun baru,

Masih seputar berita
Nenek-nenek dan sop buntutnya
Ibu tua dengan sebiji buah jatuh dalam perkara
Bapak tua dengan peluh membasahi jiwa
Terlunta lunta beralas sampah


Ini awal tahun baru,

Garuda di dada
Berkibar Sang Saka tercinta
Dalam gegap gempita
Berperisai Lima Panca
Menyatukan  : "Sumpah Palapa"


Ini awal tahun baru,

Diantara alunan kata dalam irama
Secercah harap dan juga asa
Berharap mentari bersinar ceria
Menaungi Bhumi Pertiwi tercinta


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Junjungan diatas segala junjungan
Langit diatas segala Angkasa
Pemilik Halilintar ,  serta Guntur Mahadaya
Pemilik Samudra juga Puncak- Puncak Merah Menyala


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Kubersujud dalam doa,
Dalam hening dan dalam asa
Untuk Indonesia lebih bahagia
Sejahtera, Aman Sentosa

Karena,....
Di sini aku menjelma
Di sini aku berpijak
Di sini aku menghirup udara

Selamat Tahun Baru Indonesia








01 Januari 2011

LASKAR PELANGI ANAK BANGSA's Blog